Opini

Artikel berikut pernah dimuat di Buletin IATMI untuk menyambut acara Simposium Nasional dan Kongres X dua tahun silam. Tulisan ini sengaja dimuat kembali karena masih relevan dengan kondisi saat ini. Dan pikiran-pikiran Salis inilah yang menjadi dasar penciptaan masa depan IATMI yang tercermin dalam Visi dan Misi organisasi.

Sekali lagi terima kasih atas waktunya yang sangat berharga untuk membaca ini. Saran dan pendapat dari pembaca sangat kami harapkan..

Salam untuk masa depan IATMI yang lebih baik…

salis4iatmi Team

_______________________________________

Bagi para pembaca yang berminat mengetahui OPINI-OPINI Salis yang pernah mengulas berbagai masalah migas hingga isu terkini, anda bisa mengunjungi link berikut ini:

  • “Krisis (Kebijakan) Energi”
  • “Keseimbangan Energi dan Langkah Kebijakannya”
  • “Kelola Energimu bukan (hanya) Waktumu”
  • “CSR (Corporate Social Responsibily”
  • “PSR (Professional Social Responsibility)”
  • “Perpanjangan Kontrak”
  • “Konsultan Politik Migas”
  • “Nasib Si Pelempar Sepatu”
  • _______________________________________

     

    “Repositioning IATMI”

    Siapapun yang akan maju dalam pemilihan Ketua IATMI periode 2008 – 2010 yang akan digelar dalam Kongres X IATMI 2008 bersamaan dengan Simposium Nasional, setidaknya harus memiliki ketajaman visi dan misi dalam melihat lingkungan internal maupun eksternal yang (terus) berubah.  Perubahan internal nampaknya terjadi dengan adanya pergesaran struktur dan kultur keanggotaan dan semakin minimnya partisipasipasi para anggota dalam setiap kegiatan, sehingga muncul fenomena 4L (lu lagi, lu lagi). Hal ini (mungkin) karena kurangnya program yang dapat memberi benefit bagi anggota dibanding kepada yang bukan anggota.

    Sedangkan kondisi eksternal jelas sekali berubah dengan adanya organisasi-organisasi profesi yang muncul belakangan, termasuk LSM, atau organisasi lama dengan visi dan misi baru, yang mungkin telah menyedot perhatian dan ketertarikan angggota yang selama ini aktif di IATMI “berpindah ke lain hati”. Perkembangan organisasi-organisasi profesi yang berkecimpung di bidang migas, seperti SPE Asia Pacific, SPE Java, IGA, IPA, PII, dan terakhir organisasi profesi untuk energi baru yang terbarukan (?), dll, mungkin dapat dijadikan bahan evaluasi bagaimana IATMI seharusnya mengambil posisi. Atau, dengan kata lain, menempatkan kembali (repositioning) IATMI pada jalur yang dapat menumbuh-kembangkan organisasi agar bisa terus bertahan dan berkelanjutan (sustainable) di tengah hiruk pikuk pergerakan organisasi profesi di tanah air.

    Menurut saya, ada tiga pilar inti dalam kegiatan bidang perminyakan, yaitu: Perguruan Tinggi/Universitas (U), Industri (I), dan Pemerintah (P). Apabila ketiganya disusun dalam bangun segitiga akan membentuk semacam ”Diagram Tertiery”, seperti dapat dilihat gambar di bawah ini. Masing-masing ujung merupakan ekstrem posisi dari U, I, dan P. Hubungan antara U – I dapat tercermin dari sumbangsih perguruan tinggi kepada industri perminyakan melalui penelitian, kajian, studi, konsultasi teknis dan manajemen serta timbal balik sumbangan-sumbangan dari industri ke perguruan tingggi berupa hibah peralatan laboratorium, beasiswa, kuliah kerja, kerja praktek (on the job training, OJT), program link&match, dll.

    “Tertiary Diagram” IATMI dalam hubungan Univeritas-Industri-Pemerintah di bidang perminyakan

    Sedangkan hubungan U – P sudah lama terbina melalui program-program pemerintah pada perguruan tinggi, khususnya pada perguruan tinggi negeri. Pemberian beasiswa untuk para dosen dan mahasiswa, pengembangan program studi (kurikulum), penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dll. jelas bersinggungan dengan kebijakan pemerintah. Lembaga atau institusi riset, seperti LEMIGAS atau BPPT tidak jarang melibatkan perguruan tinggi dalam melaksanakan program-programnya. Departemen teknis dan DPR tidak jarang meminta opini ahli-ahli dari perguruan tinggi.

    Yang ketiga, hubungan I – P, terjadi melalui peran aktif industri dalam memberikan devisa bagi negara, pengembangan (transfer) teknologi, menciptakan lapangan kerja dan pengembangan sumberdaya manusia, serta memberi peluang bisnis bagi warga negara Indonesia. Melalui BPMIGAS dan Ditjen Migas, pemerintah melaksanakan pengawasan dan pembinaan industri migas di Indonesia.

    Lalu, dimanakah peran IATMI harus ditempatkan?

    IATMI adalah organisasi profesi ahli teknik perminyakan Indonesia yang nirlaba, dan independen. Dengan demikian, pada “diagram tertiary” di atas, posisi IATMI berada di tengah-tengah segitiga tersebut. IATMI harus bisa menjalin hubungan antara -perguruan tinggi (universitas)-industri-pemerintah, U-I-P. secara harmonis dan saling menguntungkan. Sebagai contoh, IATMI harus terus-menerus memberikan saran dan pendapatnya dalam merespon kebijakan pemerintah dalam industri perminyakan dan perguruan tinggi (khususnya yang memiliki jurusan perminyakan). IATMI juga harus berperan aktif dalam inisiasi pengembangan teknologi alternatif dan tepat-guna, yang biasanya dikembangkan di universitas untuk dapat diimplementasikan di industri perminyakan. Sebagai timbal-baliknya, IATMI harus dapat terus mendorong industri untuk dapat menerima mahasiswa untuk magang, kuliah kerja, atau kerja praktek para mahasiswa teknik perminyakan di perusahaan-perusahaan perminyakan. IATMI juga dapat menyelenggarakan training atau kursus-kursus dasar perminyakan, dengan bantuan dari industri, untuk dapat mempercepat peningkatan kemampuan lulusan perguruan tinggi yang masih segar (fresh graduates) agar terserap pada industri perminyakan.

    Dalam upaya mengembangkan hubungan yang harmonis antara pemerintah dan industri perminyakan, IATMI dapat mengambil peran dalam menyosialisasikan program-program atau kebijakan-kebijakan pemerintah di bidang migas melalui, misalnya, simposium, luncheon talks, diskusi panel, dll. Atau, sebaliknya, IATMI dapat membawa aspirasi para pelaku bisnis (industri) perminyakan kepada pemerintah (eksekutif maupun legislatif) untuk dapat ditampung dalam kebijakan-kebijakan yang akan dan/atau sudah diberlakukan agar lebih menguntungkan bagi kedua belah pihak. Hal ini sangat perlu dilakukan sehubungan dengan makin berkembangannya aspirasi masyarakat maupun pemerintah daerah pada era otonomi sekarang ini.

    Sedangkan dalam menjembatani hubungan antara perguruan tinggi dan pemerintah, IATMI dapat berperan dengan cukup strategis dalam menyinergikan program penelitian dan riset yang dilakukan oleh pemerintah dan perguruan tinggi (seperti yang dilakukan oleh LEMIGAS, BPPT, LIPI, LAPI) khususnya di bidang perminyakan (dan energi). IATMI juga dapat sebagai media komunikasi untuk menyalurkan aspirasi perguruan tinggi pada peraturan/ perundang-undangan, serta kebijakan, termasuk yang menyangkut program alih teknologi, kebijakan energi nasional, dan pengembangan sumberdaya manusia Indonesia di bidang perminyakan.

    Maka, bagi siapapun yang akan maju dan menang dalam pemilihan Ketua Umum IATMI periode 2008 – 2010 yad, sebenarnya akan memiliki potensi yang cukup strategis dalam membina hubungan yang harmonis antara ketiga pilar kegiatan di bidang perminyakan di Indonesia, yaitu Pemerintah-Industri-Universitas. Peran ini akan lebih meningkat nyata dengan adanya rencana Pemilu Nasional untuk legislatif dan eksekutif (Pilpres) di tahun 2009 mendatang. Semoga tulisan ini bermanfaat!.

    (Salis S. Aprilian – anggota IATMI)

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s