Wawancara

 

Salis tidak henti-hentinya belajar, termasuk dalam hal berorganisasi. Visi dan misinya untuk membawa organisasi IATMI menjadi organisasi profesional yang kuat dan peduli di tanah air, regional (Asia), amaupun internasional, tidak saja memberinya semangat belajarnya menyala, tapi juga menginspirasi cita-cita hidupnya “agar lebih bermanfaat bagi orang lain” seakan menemukan jalannya.

Wawancara berikut dikutip dari hasil obrolan dengan pelaksana harian Buletin IATMI (Renville Almatsier) beberapa waktu yang lalu.

Berapa lama Anda sudah menjadi anggota IATMI ?
Saya  menjadi anggota IATMI kalau tidak salah sejak tahun 1998, sepulang dari tugas belajar di USA. Pernah aktif sebagai Ketua Umum  Komisariat Sumatra Bagian Selatan (2002 – 2004), dan Pengurus IATMI Pusat sejak 2005 sampai sekarang.

Bagaimana kesan/pendapat Anda ttg IATMI  selama ini? Apa yang kurang dan apa yang harus dilakukan ? (dalam hal hubungan anggota, komisariat agar lebih aktif, hubungan dengan pemerintah, SPE dll)
IATMI sebagai organisasi profesi di Indonesia, yang sekarang ini juga telah memiliki Komisariat di beberapa negara, cukup disegani dan dihormati, Banyak event, baik skala nasional, regional, maupun internasional,  diselenggarakan dengan kualitas yang semakin baik. Barangkali yang masih perlu disempurnakan lagi adalah pelibatan angkatan muda untuk aktif  bergabung dalam acara-acara yang diselenggarakan IATMI agar proses regenerasi berjalan lebih baik lagi. Kemandirian organisasi juga perlu didorong dengan tetap menyuarakan opini kaum professional perminyakan Indonesia yang secara aktif memberi masukan terhadap kebijakan pemerintah agar terjadi kordinasi yang baik antara Pemerintah-Perguruan Tinggi-Perusahaan sebagai tiga elemen pokok kegiatan perminyakan Indonesia.

Sebaiknya bagaimana kita mengelola organisasi profesi ?
Umumnya organisasi profesi adalah nirlaba. Pengurus organisasi biasanya terdiri dari orang-orang yang memang senang berorganisasi, memiliki dedikasi dan komitmen yang tinggi, sehingga kita harus pandai menjaga dan mengelola “spirit” mereka agar tetap menyala. Organisasi profesi seperti IATMI sedapat mungkin harus independen terhadap kepentingan suatu kelompok atau individu tertentu. Justru dengan kemandiriannya, sangat diharapkan dapat bersikap netral untuk menjembatani komunikasi di antara para pemangku kepentingan (stakeholders) yang seringkali memerlukan sinergisitas dalam mencapai tujuan.

Apa rencana Anda kalau terpilih ? Bisakah sebutkan visi dan missi Anda ?
Siapapun yang akan terpilih nanti, saya hanya ingin memberi masukan bahwa jangan sampai menyia-nyiakan amanah yang diberikan. Banyak hal yang dapat diperbuat untuk memajukan IATMI yang kita cintai ini, seperti: memberi masukan secara aktif terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah terutama yang terkait dengan kegiatan migas di Indonesia, menyelenggarakan berbagai forum diskusi yang lebih melibatkan engineers muda (young professional), mengaktifkan kembali diskusi melalui mailinglist IATMI, mendorong Pengurus dan Anggota Komisariat agar lebih aktif menyelenggarakan kegiatan di masing-masing komisariat, mempererat jalinan kerjasama dalam bentuk joint-conference dengan organisasi profesi lainnya (IAGI, HAGI, PII, SPE), mengaktifkan kegiatan pengabdian masyarakat, dll.

Dengan demikian, visi organisasi yang ingin dicapai janganlah terlalu muluk, cukup bahwa IATMI menjadi organisasi profesional yang mandiri (independent), dapat dipercaya (trusted), dan peduli (sensible).

Untuk mencapai visi tersebut dapat disusun beberapa misi organisasi, antara lain melalui program pendidikan dan pelatihan; program kaderisasi dan organisasi; program kegiatan teknik; program kemasyarakatan; serta program inovasi teknologi.

Dengan kesibukan kerja apakah Anda akan bisa membagi waktu ?
Saya yakin sekarang ini tidak ada orang yang tidak sibuk, sedangkan jumlah jam sehari masih sama (24 jam). Maka, kuncinya adalah bagaimana kita dapat mengelola “energi” kita, bukan hanya “waktu”, dengan sebaik-baiknya agar setiap pertemuan (rapat) dapat berjalan efektif dan efisien. Beberapa orang diberi kewenangan penuh sebagai Ketua sesuai bidang yang menjadi tanggungjawabnya. Dengan demikian setiap “sel” dalam organisasi akan men-generate kegiatan rutin maupun yang ad-hoc sesuai dengan kemampuannya. Hal ini akan lebih memudahkan dalam kordinasi dan penilaiannya untuk mewujudkan organisasi profesi yang semakin baik.

*****

Berapa besar keluarga Anda sekarang, bisa dipekenalkan kepada pembaca ?
Istri saya Ade. Anak kami: Tera (P, 20 th), Sande (L, 17 th), dan Betari (P, 14 th)

Mengapa Anda memilih tinggal di Bogor, apakah tidak ,menjadi kendala untuk beraktifitas jauh dari rumah ?
Kami memilih tinggal di Bogor karena kami menyukainya. Terutama karena anak-anak lebih tenang dan sudah terlanjur banyak teman-temannya di sana. Biarlah dari lima orang yang tiap hari keluar rumah hanya satu yang agak repot jauh ke jakarta. Alhamdulillah, dari sejak dulu bekerja di jakarta, sementara rumah di bogor, tidak ada masalah. Dan ternyata saya tidak sendirian yang seperti itu. Dulu sempat lama menjadi anggota Rockers (rombongan kereta) dan enjoy saja .. hehe…

Anda memiliki blog, Anda menulis (ilmiah maupun religius), dimana atau sejak kapan Anda suka menulis ?
Saya mempunyai blog hanya untuk menyalurkan unek-unek yang seringkali menggelayut di pikiran. Kadang juga untuk mendokumentasikan apa-apa yang pernah saya lakukan atau yang saya baca. Sejak SMP saya suka menulis dan pernah beberapa kali dimuat di surat kabar, tapi sekarang lebih banyak menulis untuk sendiri, atau kadang kalau berbau teknis biasanya saya kirim ke forum konferensi atau seminar, seperti SPE, IATMI, IPA, atau IAGI, dll. Kalau dinilai bagus dan diterima, saya presentasikan. Jadi, dulu sering pergi ke luar negeri ya gara-gara menulis paper. Lantas kenal sama SPE Organizer, maka sering diminta menjadi anggota Technical Program Committe, sejak 1998 sampai sekarang.

Apakah Anda pernah aktif berorganisasi sejak masa sekolah ?
Saya mengenal dan belajar organisasi memang sejak dulu di sekolah, bahkan sampai sekarangpun masih belajar. Dulu, mulai dari jadi Ketua Kelas, anggota pencinta alam, pengurus ikatan alumni sekolah, hingga sekarang jadi Ketua Umum Petrogolf dan Board of Directors IPA dan SPE ..semuanya dalam proses belajar yang tidak pernah henti..

Olahraga apa yang Anda praktekkan untuk menjaga kesehatan ?
Olahraga saya dari dulu berganti-ganti, tidak ada yang khusus ditekuni, karena olahraga bagi saya adalah untuk pergaulan (networking) selain memang untuk menjaga badan tetap sehat.. Sekarang ini yang masih sering dlakukan adalah golf, jalan pagi, dan kadang ikut olah pernafasan Merpati Putih.

Bila Anda menjadi ketua IATMI bersediakah Anda juga berkomunikasi melalui online ?
InsyaAllah, karena saya juga senang berkomunikasi dengan bahasa tulisan. Tetapi tentunya karena harus membagi waktu dengan aktifitas lain yang lain sehingga terkadang masih suka telat mereply, tapi insyaAllah tidak ada yang terlupakan.

Anda sangat muda, bila dibandingkan dengan para pendahulu Anda sebagai pejabat puncak di Pertamina. Apa yang Anda rasakan, bagaimana kiat memimpin organisasi sebesar itu ?
Ah, tua-muda itu kan sangat relatif. Saya akan kelihatan muda kalau sedang berkumpul dengan senior-senior saya, seperti (maaf..) pak Bambang Malana, atau pak Priyambodo. Tetapi kalau saya sedang berkumpul dengan anak-anak saya dan keponakan saya maka saya jelas kelihatan sudah tua..hehe
Sehingga pada posisi saya sekarang ini, saya merasa biasa-biasa saja. Yang penting kita harus bisa “membawa diri” di setiap pergaulan dan lingkungan di sekitar kita. Kita harus selalu berusaha menghargai dan menghormati orang lain, apapun levelnya, tidak memandang tua-muda, tinggi-rendah, besar-kecil… Semua itu kan hanya “casing”nya.. Itulah barangkali salah satu kiat mengelola organisasi (atau perusahaan) sekecil atau sebesar apapun.

Bila terpilih bagaimana Anda mengatasi masalah kordinasi terutama dengan komisariat yang sekaranmg terasa lemah kegiatannya ?
Kata orang, “koordinasi” memang gampang diucapkan tetapi sangat susah dijalankan. Sehingga, katanya, di Indonesia ini suatu barang yang mahal. Untuk IATMI, koordinasi antar Komisariat dan Pusat atau antar komisariat sendiri mungkin dapat distimulasi dengan cara menyelenggarakan acara-acara bareng yang melibatkan mereka. Selama ini kan sebetulnya koordinasi sudah berjalan dengan baik, misalnya pada saat SimNas diadakan di Yogya, sebagian panitianya dari Komisariat Yogya. Begitu pula sewaktu SimNas di Bandung. Barangkali tinggal diintensifkan saja kegiatan bersama (joint event)-nya.

____________________

salis4iatmi team

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s